Monday, 4 November 2013

CERITA LALAT DAN SEMUT

Beberapa ekor lalat terbang berpesta di atas sebuah tong sampah di depan sebuah rumah. Suatu ketika, anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah itu. Kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat terus menuju ke meja makan yang penih dengan makanan.

“Bosanlah dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar”

Setelah kenyang, si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu di mana ia masuk tadi. Namun pintu kaca itu telah tertutup rapat. Si lalat hinggap di kaca pintu dan memandang kawan-kawannya di luar. Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjah kaca itu. Dengan tidak menyerah kalah, lalat terus mencuba keluar dari pintu kaca. Ia kemudian mereyap mengelilingi kaca dari atas ke bawah, kiri ke kanan, dan terus mencuba mencari laluan keluar. Hari semakin petang, si lalat sudah keletihan dan kelaparan.

Esok paginya, lalat itu sudah terkulai di lantai. Tidak jauh dari tempat itu, sekumpulan semut merah keluar mencari makan. Ketika lalat itu sudah tidak berdaya, semut mengerumuni dan menggigit tubuh lalat hingga mati. Semut itu kemudian beramai-ramai mengangkat bangkai lalat untuk dibawa ke sarang mereka.

Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada semut yang lebih tua. “Kenapa dengan lalat itu? Kenapa ia mati?”

“Oh! Itu sering berlaku. Ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini. Sebenarnya mereka ini telah berusaha, berjuang bersungguh-sungguh dan berjuang untuk keluar dari pintu kaca itu. Namun tidak juga mereka menemui jalan keluar, kecewa dan keletihan lalu mati dan menjada makanan kita seperti ini” ujar semut yang lebih tua itu.

Semut kecil mengangguk tetapi masih bingung dan bertanya lagi, “Bukankah lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?”

Semut tua itu menjawab, “Lalat memang tidak menyerah kalah dan mencuba berulang kali tetapi mereka menggunakan dengan cara yang sama. Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu perkara dengan cara yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeza, maka nasib kamu akan menjadi seperti lalat ini.”

Pemenang tidak melakukan perkara yang berbeza-beza. Mereka hanya melakukan dengan cara yang berbeza.

SALAM MAAL HIJRAH UNTUK SEMUA


Sunday, 4 August 2013

Buat Renungan

Ø Ada 3 Hal dlm hidup yg tidak boleh kembali : 

1. Waktu
 2. Kata-kata 3. Kesempatan

Ø Ada 3 Hal yg dpt menghancurkan hidup seseorang :

1. Kemarahan 2. Keangkuhan 3. Dendam

Ø Ada 3 Hal yg tidak boleh hilang :

1. Harapan 2. Keikhlasan 3. Kejujuran

Ø Ada 3 Hal yg paling berharga :

1. Kasih Sayang 2. Cinta 3. Kebaikan

Ø Ada 3 Hal dlm hidup yg tidak pernah pasti :

1. Kekayaan 2. Kejayaan 3. Mimpi

Ø Ada 3 Hal yg membentuk watak seseorang :

1. Komitmen 2. Ketulusan 3. Kerja keras

Ø Ada 3 Hal yg membuat kita Berjaya :
1. Tekad 2. Kemahuan 3. Fokus

Ø Ada 3 Hal yg tidak pernah kita tahu :

1. Rezeki 2. Umur 3. Jodoh

TAPI, ada 3 Hal dalam hidup yg PASTI :

1. Tua 2. Sakit 3. Kematian.

The story of old man


This is about a man who tells how his booking an air ticket for his father, his first flight, brought emotions and made him realize that how much we all take for granted when it comes to our parents. My parents left for our native place on Thursday and we went to the airport to see them off. In fact, my father had never traveled by air before, so I just took this opportunity to make him experience the same.

In spite of being asked to book tickets by train, I got them tickets on Lufthansa. The moment I handed over the tickets to him, he was surprised to see that I had booked them by air. The excitement was very apparent on his face, waiting for the time of travel. Just like a school boy, he was preparing himself on that day and we all went to the airport, right from using the trolley for his luggage, the baggage check-in and asking for window seat and waiting restlessly for the security check-in to happen. He was thoroughly enjoying himself and I, too, was overcome with joy watching him experience all these things. As they were about to go in for the security check-in, he walked up to me with tears in his eyes and thanked me. He became very emotional and it was not as if I had done something great but the fact that this meant a great deal to him.

When he said thanks, I told him there was no need to thank me. But later, thinking about the entire incident, I looked back at my life.  As a child how many dreams our parents have made come true. Without understanding the financial situation, we ask for football, dresses, toys, outings, etc. Irrespective of their affordability, they have satisfied to all our needs.

Did we ever think about the sacrifices they had to make to accommodate many of our wishes? Did we ever say thanks for all that they have done for us? Same way, today, when it comes to our children, we always think that we should put them in a good school. Regardless of the amount of donation, we will ensure that we will have to give the child the best, theme parks, toys, etc. But we tend to forget that our parents have sacrificed a lot for our sake to see us happy, so it is our responsibility to ensure that their dreams are realized and what they failed to see when they were young, it is our responsibility to ensure that they experience all those and their life is complete.

Many times, when my parents had asked me some questions, I have actually answered back without patience. When my daughter asks me something, I have been very polite in answering. Now I realize how they would have felt at those moments.

Let us realize that old age is a second childhood and just as we take care of our children, the same attention and same care need to be given to our parents and elders.

Rather than my dad saying thank you to me, I would want to say sorry for making him wait so long for this small dream. I do realize how much he has sacrificed for my sake and I will do my best to give the best possible attention to all their wishes. Just because they are old does not mean that they will have to give up everything and keep sacrificing for their grandchildren also. They have wishes, too.

Take care of our parents. Don't take them for granted and make them feel small and unwanted in their old age. They too have feelings, dreams, hope, aspirations, wishes (and many broken/shattered ones) too while sacrificing them to give us our needs and our wants.


A father was reading a magazine and his little daughter every now and then distracted him. Trying to keep her busy, he tore out one page on which was printed the map of the world. He then tore the page into pieces and asked her to go to her room and put them together to make the map again.
He was sure she would take the whole day to get it done. But the little one came back within minutes with the perfect map…
When he asked how she could do it so quickly, she said, “Oh… Dad, there is a man’s face on the other side of the paper… I made the face perfect to get the map right.” She ran outside to play leaving the father surprised.
Reflection:
There is always the other side to whatever you experience in this world. This story indirectly teaches a lesson. i.e. whenever we come across a challenge or a puzzling situation, look at the other side… You will be surprised to see an easy way to tackle the problem.

Friday, 15 February 2013

ARWAH IBU LAWAT JENAZAH ANAK (KISAH BENAR)

Kisah ini diceritakan oleh seorang ustaz yang bertugas memandikan mayat orang Islam di hospital. Lebih kurang jam 3.30 pagi, saya menerima panggilan dari Hospital Tengku Ampuan Rahimah Klang, Selangor untuk menguruskan jenazah lelaki yang sudah seminggu tidak dituntut. Di luar bilik mayat itu cukup dingin dan gelap serta sunyi dan hening.

Hanya saya dan seorang penjaga bilik tersebut yang berada dalam bilik berkenaan. Saya membuka dengan hati-hati penutup muka jenazah. Kulitnya putih, badannya kecil dan berusia awal 20-an. Allah Maha Berkuasa. Tiba-tiba saya lihat muka jenazah itu sedikit demi sedikit bertukar menjadi hitam. Mulanya saya tidak menganggap ia sebagai aneh, namun apabila semakin lama semakin hitam, hati saya mula bertanya-tanya. Saya terus menatap perubahan itu dengan teliti, sambil di hati tidak berhenti-henti membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Detik demi detik berlalu, wajah jenazah semakin hitam. Selepas lima minit berlalu, barulah ia berhenti bertukar warna. Ketika itu wajah mayat berkenaan tidak lagi putih seperti warna asalnya, tetapi hitam seperti terbakar. Saya keluar dari bilik berkenaan dan duduk termenung memikirkan kejadian aneh yang berlaku itu. Pelbagai pertanyaan timbul di kepala saya apakah yang sebenarnya telah terjadi? Siapakah pemuda itu? Mengapa wajahnya bertukar hitam? Persoalan demi persoalan muncul di fikiran saya.

Sedang saya termenung tiba-tiba saya dapati ada seorang wanita berjalan menuju ke arah saya. Satu lagi pertanyaan timbul, siapa pula wanita ini yang berjalan seorang diri di bilik mayat pada pukul 4.00 pagi. Semakin lama dia semakin hampir, dan tidak lama kemudian berdiri di hadapan saya. Dia berusia 60-an dan memakai baju kurung.

Ustaz," kata wanita itu."Saya dengar anak saya meninggal dunia dan sudah seminggu mayatnya tidak dituntut. Jadi saya nak tengok jenazahnya." kata wanita berkenaan dengan lembut.


Walaupun hati saya ada sedikit tanda tanya, namun saya membawa juga wanita itu ke tempat jenazah tersebut. Saya tarik laci 313 dan buka kain penutup wajahnya

"Betulkah ini mayat anak mak cik?"tanya saya."Mak cik rasa betul... tapi kulitnya putih."Makcik lihatlah betul-betul." kata saya. Selepas ditelitinya jenazah berkenaan,wanita itu begitu yakin yang mayat itu adalah anaknya. Saya tutup kembali kain penutup mayat dan menolak kembali lacinya ke dalam dan membawa wanita itu keluar dari bilik mayat. Tiba di luar saya bertanya kepadanya.

"Mak cik, ceritakanlah kepada saya apa sebenarnya yang berlaku sampai wajah anak mak cik bertukar jadi hitam?" tanya saya.Wanita itu tidak mahu menjawab sebaliknya menangis teresak-esak.Saya ulangi pertanyaan tetapi ia masih enggan menjawab.Dia seperti menyembunyikan sesuatu."Baiklah, kalau mak cik tidak mahu beritahu,saya tak mahu uruskan jenazah anak mak cik ini. "kata saya untuk menggertaknya.

Bila saya berkata demikian, barulah wanita itu membuka mulutnya.Sambil mengesat airmata, dia berkata,"Ustaz, anak saya ni memang baik,patuh dan taat kepada saya.Jika dikejutkan di waktu malam atau pagi supaya buat sesuatu kerja,dia akan bangun dan buat kerja itu tanpa membantah sepatahpun.Dia memang anak yang baik.Tapi..." tambah wanita itu lagi "apabila makcik kejutkan dia untuk bangun sembahyang,Subuh misalnya, dia mengamuk marahkan mak cik.Kejutlah dia, suruhlah dia pergi ke kedai,dalam hujan lebat pun dia akan pergi, tapi kalau dikejutkan supaya bangun sembahyang,anak makcik ini akan terus naik angin.Itulah yang mak cik kesalkan." kata wanita tersebut.

Jawapannya itu memeranjatkan saya.Teringat saya kepada hadis nabi bahawa barang siapa yang tidak sembahyang,maka akan ditarik cahaya iman dari wajahnya.Mungkin itulah yang berlaku.Wajah pemuda itu bukan sahaja ditarik cahaya keimanannya,malah diaibkan dengan warna yang hitam.

Selepas menceritakan perangai anaknya,wanita tersebut meminta diri untuk pulang.Dia berjalan dengan pantas dan hilang dalam persekitaran yang gelap.Kemudian saya pun memandikan, mengapankan dan menyembahyangkannya.

Selesai urusan itu, saya kembali ke rumah semula.Saya perlu balik secepat mungkin kerana perlu bertugas keesokan harinya sebagai imam di Masjid Sultan Sallehuddin Abdul Aziz Shah, Shah Alam.Selang dua tiga hari kemudian, entah kenapa hati saya begitu tergerak untuk menghubungi waris mayat pemuda tersebut. Melalui nombor telefon yang diberikan oleh Hospital Tengku Ampuan Rahimah,saya hubungi saudara Allahyarham yang agak jauh pertalian persaudaraannya.

Selepas memperkenalkan diri, saya berkata,"Encik, kenapa encik biarkan orang tua itu datang ke hospital seorang diri di pagi-pagi hari.Rasanya lebih elok kalau encik dan keluarga encik yang datang sebab encik tinggal di Kuala Lumpur lebih dekat dengan Klang."Pertanyaan saya itu menyebabkan dia terkejut,"Orang tua mana pula?" katanya.

Saya ceritakan tentang wanita berkenaan, tentang bentuk badannya,wajahnya, tuturannya serta pakaiannya."Kalau wanita itu yang ustaz katakan,perempuan itu adalah emaknya, tapi.... emaknya dah meninggal lima tahun lalu!"Saya terpaku, tidak tahu apa yang hendak dikatakan lagi.Jadi 'apakah' yang datang menemui saya pagi itu?

Walau siapa pun wanita itu dalam erti kata sebenarnya,saya yakin ia adalah 'sesuatu' yang Allah turunkan untuk memberitahu kita apa yang sebenarnya telah berlaku hingga menyebabkan wajah pemuda berkenaan bertukar hitam.Peristiwa tersebut telah terjadi lebih setahun lalu, tapi masih segar dalam ingatan saya.Ia mengingatkan saya kepada sebuah hadis nabi,yang bermaksud bahawa jika seseorang itu meninggalkan sembahyang satu waktu dengan sengaja,dia akan ditempatkan di neraka selama 80,000 tahun.Bayangkanlah seksaan yang akan dilalui kerana satu hari di akhirat bersamaan dengan seribu tahun di dunia.
Kalau 80,000 tahun?

Ingatlah..azab meninggalkan solat fardhu ini amat dahsyat dan tidak putus-putus seksaannya dari kehidupan dunia hinggalah kehidupan akhirat..Semoga kita semua mengambil iktibar dari cerita ini dan menjadi orang yang sentiasa menjaga solat,InsyaAllah..